manusia monyet dan manusia ular dari Ende   Leave a comment

Septiani

Manusia langka berwajah monyet, Septiani Abdulah (11) dikatakan begitu karena adad perbedaan mencolok tampak dari wajahnya. Mulutnya  lebar mirip mulut  monyet, hidung  besar dan lubangnya  agak lebar. Bola matanya bundar panjang. Hal yang sama terlihat pada alias matanya yang lebih besar dibanding bentuk mulut dan hidung.
Dia sangat cerewet dan punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu.  “Septiani ceweret sekali dan sikap ingin tahunya  tinggi. Bertanya terus. Kalau dia belum puas dengan jawaban yang disampaikan, dia akan tanya lagi,” tutur tanta Septi kepada FloresStar di Gedung Baranuri Ende.

Sehari-hari,  kata tantanya, Septi bergaul dan bermain dengan anak-anak seusianya di sekolah maupun di rumah.  Septi yang kini duduk di kelas III SD Negeri  Dumbayan juga  bergaul  tanpa batas dengan semua anak, meski bentuk tubuhnya berbeda dengan anak-anak sebayanya.epti tak sungkan memperlihatkan  bentuk wajah yang mirip monyet. Juga bulu dari tengkuk hingga ke pantat. Dia rela membuka baju di bagian belakang guna memperlihatkan  bulu yang tumbuh lebat.

Demikian juga bentuk kaki dan tangan berbeda dari keadaan anak-anak yang tumbuh normal. Kulit tubuhnya kuning, kaki dan tangan kecil dan ada guratan-guratan.Nada bicaranya pun berbeda dengan anak-anak yang normal. Ucapan huruf-huruf  vokal dan konsonan tidak jelas terdengar.

manusia bersisik ular

Ari Wibawa

Ari Wibawa alias Si Tole adalah anak sulung pasangan Erman dan Nur Ali yang berasal dari Desa Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang, Banten. Tubuh Si Tole penuh sisik, mirip ular yang hendak berganti kulit. Dari telapak kaki sampai kepala semuanya bersisik. Setiap 41 hari dia berganti kulit dan kejadiannya telah berlangsung sejak dia dilahirkan.

Ada fenomena aneh yang terjadi pada kulit Si Tole, tubuhnya harus diolesi lotion merk Lacticer setiap 3 jam sekali. Jika tidak, kulitnya akan mengerut dan mengeras dengan cepat, serta menimbulkan rasa panas dan perih. Kata kakeknya, Arfan Afandi,” tubuh  Si Tole akan tampak seperti mayat hidup jika dibiarkan 3 jam.”

Bola mata kanan Si Tole sudah tidak berfungsi dan rusak karena tidak diolesi obat tetes mata tiap saat. Mata kirinya pun setiap kali harus ditetesi agar tidak menimbulkan kerusakan yang sama seperti mata kanannya.

Melihat tubuh Si Tole yang bersisik tak seperti manusia normal pada umumnya, ayah dan ibunya membawanya ke RS Harapan Kita di Jakarta dan dirawat sebulan di sana. Dari RS Harapan Kita, Si Tole dibawa orangtua dan sanak familinya ke seorang dokter di RSUD Tangerang. Hasil pemeriksaan dokter merekomendasikan sisik pada kulit Si Tole bukan penyakit, melainkan kelainan kulit. Dokter menyarankan supaya dioperasi, tetapi keluarga ini tak memiliki biaya yang cukup.
“Biayanya sangat mahal. Untuk beli lotion saja tidak cukup uang. Ada sponsor yang bawa mereka keliling ke kota-kota cari dana supaya bisa beli lotion,” kata Afandi yang selalu duduk mendampingi cucunya.

sumber Tribun Kaltim dan Kompas

Posted Juni 3, 2010 by dani chiaputra in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: